TpM6BSG6GUY9GfW7BUM0BSW9BY==

6 Kesalahan Mengatur Waktu Charging EV yang Bisa Membuat Perjalanan Makin Lama

 Menggunakan electric vehicle (EV) untuk perjalanan jauh membutuhkan perencanaan yang sedikit berbeda dibandingkan mobil berbahan bakar bensin. Salah satunya adalah mengatur waktu pengisian daya. Jika charging dilakukan pada waktu atau kondisi yang kurang tepat, waktu perjalanan bisa bertambah meskipun kapasitas baterai sebenarnya masih mencukupi.

Hal ini semakin relevan karena infrastruktur charging terus berkembang. Menurut International Energy Agency (IEA), jumlah public charging point di dunia telah mencapai lebih dari 7 juta pada akhir 2025, sementara rata-rata kecepatan charger publik juga meningkat seiring bertambahnya charger fast dan ultra-fast.

Namun, tersedianya charger cepat bukan berarti setiap sesi charging otomatis berlangsung singkat. Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.


1. Baru Mencari SPKLU Saat Baterai Hampir Habis


Menunggu baterai sampai sangat rendah sebelum mencari stasiun pengisian daya dapat membuat perjalanan lebih berisiko mengalami keterlambatan.

Masalahnya bukan hanya durasi charging. Pengemudi juga perlu memperhitungkan waktu mencari SPKLU, antrean jika semua charger sedang digunakan, hingga kemungkinan harus berpindah ke lokasi lain ketika charger bermasalah atau tidak kompatibel.

Karena itu, sebaiknya tentukan beberapa titik charging sebelum berangkat, terutama ketika melakukan perjalanan antarkota. Perencanaan seperti ini juga memberi kesempatan untuk mempersiapkan kebutuhan perjalanan lainnya, termasuk mengecek kondisi kendaraan dan perlengkapan keselamatan. Untuk perjalanan yang melibatkan aktivitas lebih berisiko atau jarak jauh, sebagian pengemudi juga mempertimbangkan asuransi jiwa sebagai bagian dari persiapan perjalanan.


2. Mengisi Daya Sampai 100% Saat Sedang Perjalanan


Mengisi baterai hingga penuh memang memberikan rasa aman. Namun, strategi tersebut tidak selalu paling efisien untuk perjalanan jauh.

Kecepatan pengisian baterai umumnya tidak konstan sepanjang sesi. Mendekati kapasitas penuh, sistem kendaraan dapat menurunkan daya pengisian untuk membantu menjaga kondisi baterai. Artinya, waktu yang dibutuhkan untuk menambahkan persentase baterai terakhir bisa lebih lama dibandingkan pengisian pada level yang lebih rendah.

IEA juga mencatat bahwa untuk perjalanan jarak jauh, jaringan fast charger yang mampu mengisi ulang kendaraan dalam sekitar 15–20 menit dapat menjadi pilihan yang memadai bagi banyak konsumen.

Jadi, daripada selalu menunggu 100%, pengemudi dapat mempertimbangkan pengisian secukupnya agar bisa mencapai SPKLU berikutnya dengan aman.


3. Hanya Melihat Angka kW pada Charger


Kesalahan lainnya adalah menganggap charger dengan angka kW besar pasti membuat semua EV terisi sangat cepat.

Padahal, kemampuan menerima daya setiap kendaraan berbeda. Jika mobil hanya mampu menerima daya pengisian tertentu, menggunakan charger berkapasitas jauh lebih tinggi belum tentu membuat pengisian berlangsung sesuai angka maksimum pada charger.

IEA mencatat bahwa charger ultra-fast dengan daya 150 kW atau lebih memang semakin banyak tersedia, tetapi hanya sebagian kendaraan yang dapat memanfaatkan kemampuan tersebut secara maksimal. Pada 2025, hanya sekitar 30% mobil listrik baterai yang dapat memanfaatkan ultra-fast charging.

Karena itu, sebelum menentukan SPKLU, periksa terlebih dahulu maksimum charging rate yang didukung kendaraan.


4. Tidak Memperhitungkan Kondisi Baterai dan Suhu


Waktu charging juga dapat dipengaruhi oleh kondisi baterai dan temperatur. Pengemudi yang hanya mengandalkan perkiraan waktu dari spesifikasi kendaraan bisa mendapatkan hasil berbeda di kondisi nyata.

IEA menjelaskan bahwa temperatur merupakan salah satu faktor yang dapat membatasi kemampuan ultra-fast charging.

Karena itu, saat merencanakan perjalanan jauh, jangan membuat jadwal terlalu ketat. Sisakan waktu tambahan untuk kondisi yang dapat menyebabkan pengisian berlangsung lebih lambat.

Selain kondisi baterai, keselamatan selama perjalanan juga sebaiknya tidak diabaikan hanya karena fokus utama adalah efisiensi waktu. Pengemudi yang sering melakukan perjalanan jauh dapat mengecek kembali perlengkapan keselamatan dasar di kendaraan. Jika membutuhkan perlengkapan tambahan, toko alat safety dapat menjadi salah satu rujukan untuk mencari perlengkapan keselamatan yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan.


5. Memilih SPKLU Tanpa Mempertimbangkan Lokasinya


SPKLU yang lebih cepat belum tentu menjadi pilihan terbaik jika lokasinya membuat perjalanan semakin tidak efisien.

Misalnya, pengemudi memilih charger yang berada jauh dari jalur utama hanya karena memiliki daya lebih besar. Waktu yang dihemat saat charging bisa habis karena harus memutar atau menunggu akses menuju lokasi tersebut.

Perencanaan charging sebaiknya mempertimbangkan kombinasi jarak, daya charger, kondisi baterai, dan rute perjalanan.

Dengan cara tersebut, pengemudi tidak hanya mengejar angka kW tertinggi, tetapi juga mencari titik charging yang paling masuk akal berdasarkan keseluruhan perjalanan.


6. Tidak Memberikan Jeda Waktu dalam Itinerary


Kesalahan terakhir adalah membuat jadwal perjalanan seolah-olah charging selalu berlangsung sesuai estimasi minimum.

Padahal, perjalanan menggunakan EV memiliki variabel tambahan. Antrean, kondisi charger, temperatur, kondisi baterai, hingga perubahan rute dapat memengaruhi waktu perjalanan.

IEA sendiri menekankan bahwa ketersediaan dan kapasitas charging menjadi faktor penting dalam mendukung perjalanan EV, khususnya ketika melakukan perjalanan jarak jauh.

Karena itu, jangan menjadwalkan keberangkatan berikutnya terlalu mepet dengan estimasi selesai charging. Memberikan buffer waktu dapat membuat perjalanan lebih nyaman sekaligus mengurangi risiko terlambat.


Jangan Hanya Fokus pada Persentase Baterai


Mengatur waktu charging EV sebenarnya bukan sekadar menentukan kapan harus berhenti dan mencolokkan kabel. Pengemudi perlu mempertimbangkan rute, kemampuan charging kendaraan, daya SPKLU, kondisi baterai, temperatur, serta kemungkinan antrean.

Dengan perencanaan tersebut, waktu yang dihabiskan di SPKLU dapat menjadi bagian perjalanan yang lebih terukur. Terlebih, perkembangan infrastruktur charging terus berlangsung; IEA mencatat public charging point global bertambah lebih dari 33% sepanjang 2025.


0Komentar

Special Ads
Special Ads
Special Ads